Kamis, 29 Desember 2011

Rupiah dari www.ti.co.id

Satu lagi program yang menjadi alternatif penghasilan dari internet. Yaitu www.ti.co.id. Nah, di website ini ini jika kita berhasil merekut satu anggota maka kita diberi upah 1000 rupiah. Wah kecil sekali…
Eh tunggu dulu,
Kita coba bandingkankan dengan usaha yang lain. Toko pulsa misalnya, rata-rata untung 1000 pertransaksi. Padahal untuk membuak toko pulsa modal yang gede. Selain itu, harus standbai terus ditoko. Nah, jika di bisnis ini, modal kita nol, alias gratis. Dan kita bisa aktifitas lain. Ya to….
1000 jika 1 orang, maka jika 100 orang? Maka 100.000. Andaikan sehari kita memperoleh 100 pengunjung maka kita memperoleh 3.000.000 dalam sebulan.
Wau! Lebih besar dari PNS kan?
Mungkin tidak? Sangat mungkin sekali karena pengguna internet jutaan. So, sangat mungkin sekali…
Bagaimana Caranya?
Program ini gratis tis tis tis….dan tanpa resiko, dan bukan money game. Blog kita bagaikan took yang ada perusahaan menawarkan produknya di taruh di toko kita. Jika terjual maka kita dapat untung, jika tidak terjual maka kita pun tidak rugi. Berikut ini caranya,
  1. Pertama-tama klik disini untuk mendaftar
  2. Klik teks Setuju
  3. Isi form dengan lengkap
  4. Buka email Anda dan aktivasi dengan mengeklik link yang diberikan.
  5. Ambil kode affiliate yang telah disediakan
  6. Pasang diblog kamu (Contoh seperti di blog aku ini)
  7. Dan Blog kamu siap menjadi mesin Uang otomatis
Oh ya, setiap kamu mendapatkan penghasilan maka kamu akan mendapat sms konfirmasi. Ini karena perusahaan ini benar-bena dapat dipercaya. Semoga tulisanku ini memberi inspirasi dan solusi bagi Anda. Amin
“Teknologi Bukan Memperkerjakan kita tapi teknologi yang bekerja untuk kita”

Wirausaha Online Modal Nol Rupiah

Kalau dengar yang gratisan tapi menghasilkan pasti sobat semua pada suka. Nah sekarang ane mau sharing yang namanya wirausaha online modal nol rupiah. Caranya mudah dan tentunya tanpa mengeluarkan modal.

Bisnis ini berbasis sistem affiliasi sama seperti yang pernah ane sharing pada postingan sebelumnya (Baca: Sumber Penghasilan Online Lewat Oke Gratis) dan (Baca: Pasang Iklan Gratis Dapat Uang Lagi). Namun afiliasi yang satu ini menawarkan komisi yang cukup besar yaitu 50:50.

Harga produk yang di tawarkan Rp 100.000, so sobat akan mendapatkan komisi Rp 50.000 setiap anda berhasil menjual produk tersebut. Mungkin sobat bertanya, produknya apa.

Tenang, ini bukan arisan online atau investasi, karena bisnis seperti itu tidak akan ane sharing di blog ini. Mereka mempunyai 3 website yang bisa anda pilih untuk di promosikan, yaitu:

1.      Mobil Raya
Website ini merupakan tempat informasi jual/beli kendaraan
2.      Rumah Raya
Website ini berisi informasi jual/beli rumah
3.      Ayonikah
Website ini merupakan tempat untuk mencari jodoh.


Terus produknya apa ?..........

Jadi sobat tawarkan website di atas kepada rekan, teman atau keluarga sobat. Jika mereka menggunakan fasilitas tersebut maka sobat akan mendapatkan komisi. Untuk memasang iklan mobil, rumah atau mendaftar sebagai anggota mereka akan di kenakan biaya Rp 100.000.

Rp 100.000 ????....Gak kemahalan

Mahal atau tidak itu semua relative. Perlu di ingat Rp 100.000 itu per pasang iklan bukan per periode (bulan atau tahuan), so jika rumah atau kendaraan anda belum terjual maka infonya akan terus ada. Dan kedua website tersebut merupakan website khusus, artinya hanya menyediakan info 1 produk saja.

Kemungkinan pengguna internet yang mencari informasi jual beli rumah atau kendaraan di internet untuk datang ke website tersebut tentu akan lebih besar dan otomatis kemungkinan rumah atau kendaraan anda terjual dengan cepat juga akan lebih besar.

Bagaimana tertarik, langsung bergabung di Wirausaha Online Modal Nol Rupiah

Oh, satu lagi. Komisi juga bisa anda dapatkan tidak hanya menawarkan ketiga website tersebut, tapi juga menawarkan sistem ini. Anda akan mendapatkan Rp1000 / ref dan komisi anda akan di bayar setelah mencapai Rp 100.000.

Mantap bukan,  Wirausaha Online Modal Nol Rupiah. Untuk. Untuk mengetahu lebih jauh tentang bisnis afiliasi sobat bisa membacanya di Bisnis Online Lewat Affiliate dan Reseller.

Candi Baru Ditemukan Di Kampus UII Yogyakarta

Candi adalah salah satu peninggalan sejarah dari peradapan manusia yang pernah berkembang di negara kita, Candi juga merupakan bukti bahwa bangsa kita jaman dahulu telah memiliki arsitektur dengan seni yang sangat indah. Candi sendiri dahulu berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa, tempat peletakkan abu jenazah dari seorang raja, dan sebagai monumen untuk memperingati peristiwa besar yang pernah terjadi

Struktur berpola yang diduga sebagai bangunan canti baru-baru ini ditemukan pada saat pembangunan gedung perpustakaan Universitas Islam Indonesia di sleman jogjakarta. Bangunan yang diperkirakan sebagai Candi itu diperkirakan berusia lebih dari seribu tahun dan kemungkinan berstruktur besar. Tidak heran apabila tempat tersebut ditemukan candi sebab kita lihat sejarah yang mengatakan Jogjakarta sempat memiliki kerajaan besar dengan nama mataran hindu dan letak tempat tersebut agak tinggi ini merupakan kebiasaan masyarakat dahulu yang mendirikan candi dengan beberapa tingkatan menurut letak ketinggian dataran lokasi pendirian candi.

Awalnya, candi ditemukan oleh pekerja proyek yang tengah menggali tanah untuk Lubang-lubang yang digunakan sebagai peletak fondasi tiang bangunan perpustakaan baru di kampus UII Jalan Kaliurang. “Penemuan terjadi Jumat pagi kemarin, awalnya pekerja mengira itu batu biasa(bukan merupakan bangunan candi). Tapi setelah digali lebih jauh, ternyata batu itu ada ukiran-ukirannya,” ujar Asnawi salah satu staf pengawas proyek.

Dari 24 kolom berukuran 3 x 3 meter dengan kedalaman 3,5 meter itu, tiga kolom di antaranya terdapat batu-batu candi yang memiliki ukiran-ukiran dengan pola-pola tertentu yang menyerupai candi. Satu bagian yang diduga sebagai pinggiran candi masih tersusun rapi dengan panjang 2,7 meter dan lebar 50 centimeter.

Beberapa batuan candi ada yang rusak karena penggalian sempat menggunakan alat berat. Tadinya, kolom fondasi ini hanya akan digali sedalam 3 meter. Tapi karena ada perubahan rencana, maka ditambahkan kedalamannya 50 centimeter. “Kalau tidak ada penambahan itu, kemungkinan candi ini tidak akan terungkap,” ujar Asnawi.

Ketua Kelompok Kerja Perlindungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta Indung Panca Putra langsung menurunkan tim ke lapangan pada Sabtu pagi. Indung juga mengatakan telah meminta pelaksana proyek dan pihak kampus untuk menghentikan sementara pembangunan perpustakaan itu untuk penelitian lebih jauh terhadap candi tersebut.

Dari perkiraan sementara, Indung juga mengatakan candi itu berasal dari abad IX-X Masehi pada zaman kerajaan Mataram Kuno. Namun, raja yang memerintahkan pembangunan serta fungsi candi ini, apakah untuk pemakaman atau pemujaan, masih harus diteliti lebih jauh. Dan juga belum ditemukan apakah keterkaiatan candi yang baru ditemukan ini dengan candi-candi yang berada di sekitarnya.

Perkiraan para ahli arkeologi yakin bahwa ada sebuah candi yang besarnya melebihi candi borobudur yang masih terkubur di beberapa lokasi di Indonesia. Semoga ini menjadi kenyataan dan bukti bahwa bangsa indonesia adalah bangsa yang besar yang memiliki peradapan yang lebih maju dari apa yang diperkirakan selama ini.


sumber

Budaya Politik

Terdiri dari kata budaya dan kata politik. Budaya: keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Jika dijabarkan dari defenisinya maka akan didapat tiga wujud kebudayaan yaitu:
Ø  Sistem ide, gagasan (nilai)
Ø  Sistem sosial (tingkah laku atau tindakan)
Ø  Sistem artefak (materi)
Sedangkan kata politik sendiri jika diartikan secara sederhana: cara untuk meraih kekuasaan.
Salah satu aspek penting dalam sistem politik adalah budaya politik (political culture) yang mencerminkan faktor subyektif. Bentuk dari budaya politik dalam suatu masyarakat dipengaruhi antara lain oleh sejarah perkembangan dari sistem agama, kesukuan, status sosial, konsep mengenai kekuasaan kepemimpinan dan sebagainya.
Budaya politik mengutamakan dimensi psikologis dari suatu sistem politik, yaitu sikap-sikap, sistem-sistem kepercayaan, simbol-simbol yang dimiliki oleh individu-individu dan beroperasi di dalam seluruh masyarakat, serta harapan-harapannya. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya dalam perilaku politik ternyata budaya politik ini sangat mempengaruhi proses atau cara berpolitik seseorang. Kegiatan politik seseorang tidak hanya ditentukan oleh tujuan-tujuan yang didambakannya, akan tetapi juga oleh harapan-harapan politik yang dimilikinya dan oleh pandangannya mengenai situasi politik.



Beberapa Defenisi Budaya Politik
Ø  Gabriel Almond
Budaya Politik adalah keseluruhan pandangan-pandangan politik seperti norma-norma, pola-pola orientasi terhadap politik dan pandangan hidup pada umumnya.
1.      Orientasi Individu itu memiliki sejumlah komponen yaitu:
2.      Orientasi Kognitif, yaitu pengetahuan, keyakinan
3.      Orientasi Afektif, yaitu perasaan terkait, keterlibatan, penolakan dan sejenisnya tentang obyek politik.
4.      Orientasi Evaluasi, yaitu penilaian dan opini tentang obyek politik yang biasanya melibatkan nilai-nilai standar terhadap obyek politik dan kejadian-kejadian.

Ø  Walter A. Rosenbaum
Budaya politik dapat didefenisikan:
1.      jika terkonsentrasi pada individu, budaya politik merupakan fokus psikologis, artinya bagaimana cara-cara seseorang melihat sistem politik. Apa yang ia rasakan dan ia pikirkan tentang simbol, lembaga, dan aturan yang ada dalam tatanan politik dan bagaimana pula ia meresponnya.
2.      Budaya politik merujuk pada orientasi kolektif rakyat terhadap elemen-elemen dasar dalam sistem politiknya. Inilah yang disebut ‘pendekatan sistem’

Ø  Albert Widjaja
Budaya politik adalah aspek politik dari sistem nilai-nilai yang terdiri dari ide, pengetahuan, adat istiadat, tahayul dan mitos.
Kantaprawira
Budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota atau masyarakat dalam sistem politik.

Ø  Mochtar Masoed
Budaya politik adalah sikap dan orientasi warga suatu negara terhadap kehidupan pemerintahan negara dan politiknya.


Dari beberapa defenisi tentang budaya politik di atas dapat diambil beberapa poin-poin penting yaitu:
  1. Nilai, ide, norma
  2. Sikap-sikap atau tingkah laku
  3. Sistem kepercayaan
  4. Simbol
  5. Orientasi

Artinya di sini, bahwa setiap kelompok masyarakat atau setiap suku bangsa memiliki konsep-konsep yang berbeda tentang kekuasaan. Bagaimana cara untuk meraih kekuasaan itu ternyata berbeda tiap-tiap suku bangsa. Nilai gagasan, sikap-sikap, sistem kepercayaan, simbol kedaerahan, orientasi dari masing-masing suku bangsa inilah yang menentukan cara mereka berpolitik atau perilaku politik mereka. Intinya satu yaitu meraih kekuasaan. Konsep-konsep yang berbeda dari setiap suku bangsa tentang kekuasaan jelas akan mempengaruhi kehidupan dan cara berpolitik mereka. Jadi, ternyata dalam penerapannya budaya politik ini akan tampak dengan jelas pada saat terjadi ajang-ajang perebutan kekuasaan seperti pemilu. Maka apa yang dilakukan seseorang dalam berpolitik akan sangat dipengaruhi oleh nilai, tingkah laku, sistem kepercayaan, simbol, dan orientasi yang dimiliki seseorang itu.
Lebih terang lagi mungkin jika kita mendengarkan kalimat “identitas etnik”. Dari yang mungkin telah kita amati, sangat sering sekali masyarakat kita memilih calon pemimpin itu dengan emosi, tidak memikirkan apa yang bisa dilakukan dan apa yang akan terjadi ke depannya jika calon yang mereka pilih itu terpilih. Di sinilah sangat terlihat jelas bagaimana identitas etnik itu bermain. Calon-calon legislatif, atau calon-calon gubernur, bupati atau bahkan calon presiden sekalipun pasti menggunakan identitas etniknya untuk memuluskan langkahnya untuk menang dan meraih kekuasaan yang diinginkannya. Apabila kita berjalan di sepanjang Kota Medan ini, pastilah kita jumpai spanduk-spanduk caleg yang bertuliskan mengajak kita untuk memilih karena etnisnya, karena agamanya, dan sebagainya. Dan ada yang lebih menarik, bagaimana para calon-calon yang akan dipilih itu mencantumkan identitas etnik istri atau suaminya. Pastinya ada suatu maksud tentunya atas ini semua. Sangat terlihat bahwa untuk meraih kekuasaan segala cara dan upaya pasti dilakukan dengan konsep-konsep budaya politiknya masing-masing.
Ada satu yang akan saya fokuskan lagi dari kelima poin tadi tentang budaya politik yaitu sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan mempengaruhi budaya politik seseorang. Dia Islam, dia Kristen jelas akan mempengaruhi budaya politiknya. Karena dari dasar-dasarnya pasti ada yang diajarkan Islam atau Kristen dengan etika protestannya yang akan mempengaruhi pola pikir budaya politiknya. Dan untuk yang satu ini jelas bisa kita lihat juga bagaimana ternyata dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang lalu, dari hasil kesimpulan yang diterangkan Bapak Irfan Simatupang di kelas Antropologi Politik 22 Januari 2009 yang lalu, bahwa masyarakat memilih cenderung dengan emosi, yang mengakibatkan Islam sebagian besar suaranya tidak lari dari calon yang beragama Islam, dan Kristen juga demikian.
Jika kita telusuri lagi tentang budaya politik, ternyata ada kesamaan budaya politik orang Batak Toba dengan apa yang dulu pernah diterapkan bangsa Eropa pada masa mereka melakukan eksvansi-eksvansi ke daratan jajahan mereka. Kalau di Batak Toba ada Hamoraon, Hagebeon, dan Hasangopan, di Eropa ada semboyan Gold (emas atau kekayaan), Glory (kemuliaan), Gospel (kitab injil). Dari ketiga semboyan itu ternyata untuk meraih kekuasaan, pertama-tama yang harus dilakukan adalah gold (mengumpulkan harta, emas, atau kekayaan sebanyak-banyaknya), ketika sudah kaya kamu akan mendapatkan glory (kemuliaan), dan selalulah meminta petunjuk pada gospel (injil) pasti kekuasaan akan berada ditangan kamu. Seperti inilah budaya politik yang diterapkan bangsa-bangsa Eropa untuk menaklukkan setiap daerah jajahannya. Sangat mirip dengan landasan yang dipunyai orang Batak dalam budaya politiknya.
Tanggapan saya tentang aplikasi budaya politik pada masa sekarang ini, jelas bahwa identitas etnik sangat tajam sekali pengaruhnya dalam proses-proses politik di negara ini, bagaimana di setiap pemilihan apa saja pun itu yang memperebutkan kekuasaan pasti identitas etnik tidak dapat dipisahkan dari perilaku politik yang ada di masa sekarang ini. Sekali lagi kita akan melihat di pemilu yang sebentar lagi akan tiba budaya politik manakah yang akan menang dalam pemilu tersebut. Dan yang paling menonjol lagi kita dapat melihat bagaimana ternyata Partai Politik tidak menjalankan fungsi yang semestinya. Yang seharusnya menjalankan janji-janjinya dengan sepenuh hati. tetapi yang terlihat sekarang ini adalah bahwa itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana cara agar mereka dapat memenangi pertarungan. Dan segala cara walaupun itu tidak baik akan mereka lakukan. Dan di sini sekali lagi mereka mencantumkan asal-usul, etnis dan kekerabatannya sebagai embel-embel yang melengkapi nama mereka sebagai caleg.
Aplikasinya untuk yang akan datang saya kira masih akan sama seperti sekarang karena jelas akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari konsep-konsep budaya politik yang dimiliki seseorang mungkin sejak ia lahir yang ia peroleh dari proses belajar kebudayaanya di lingkungan kebudayaan masyarakatnya. Dan tentunya sangat sulit lepas dari kecurangan-kecurangan yang sepertinya telah mendarah daging di negara ini. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme adalah contoh-contoh nyata kebobrokan negara ini dalam membangun diri.

Pemberian Parcel saat Lebaran

           Pemberian parcel pada saat lebaran telah menjadi budaya tahunan di Indonesia. Khususnya di kalangan pejabat. Saling bertukar parcel adalah sangat memungkinkan untuk menjalin silaturahmi apabila nantinya satu dengan yang lainnya tidak sempat untuk saling berkunjung. Parcel inilah yang menjadi alternatifnya. Tapi siapa yang tahu ternyata banyak sesuatu dibalik pemberian sebuah parcel. Ternyata ini bukan pemberian yang cuma-cuma, banyak yang diharapkan dari pemberian sebuah parcel. Sangat disayangkan tentunya Idul Fitri yang seharusnya bersih dari segala tindak-tanduk ketidakbenaran harus  tercemar karena sebuah parcel. Karena ternyata parcel ini dimanfaatkan bukan untuk menjalin silaturahmi seperti yang tadi telah tersebut di atas, ternyata ada unsur-unsur politik di dalamnya. Sebuah pemberian parcel ternyata bersifat mengikat orang yang menerima parcel tersebut. Si pemberi memberikan parcel karena mengharapkan sesuatu juga dari yang menerima, tidak cuma-cuma begitu saja pemberian parcel tersebut mereka lakukan. Bisa juga ada “suap” dalam pemberian sebuah parcel. Contohnya mungkin dalam sekolah, orang tua yang ingin nilai anaknya bagus pada saat akhir semester, akan memanfaatkan parcel untuk mendongkrak nilai anaknya tadi. Dengan memberikan parcel kepada gurunya diharapkan gurunya akan membantu untuk mengangkat nilai anaknya di akhir semester. Pemberian parcel pada saat lebaran ini sempat juga dilarang di kalangan pejabat, karena sangat dimungkinkan akan banyak permainan politik yang terjadi karena sebuah parcel.
            Dalam menerangkan masalah ini, saya mencoba mengkaitkannya dengan konsep fakta sosial dari Emile Durkheim. Landasan berpikir Durkheim mengenai masyarakat adalah pandangannya mengenai suatu masyarakat yang hidup. Durkheim mengatakan ada manusia-manusia yang berpikir dan bertingkah laku dalam hubungan satu dengan yang lain. Durkheim menyebut manusia-manusia itu sebagai individu, sedangkan pikiran-pikiran yang dikeluarkan masyarakat tadi dan tingkah laku masyarakat tadi disebutnya gejala, atau fakta individual. Durkheim juga mengatakan bahwa dalam berpikir dan bertingkah laku manusia dihadapkan pada gejala-gejala atau fakta-fakta sosial yang katanya seolah-olah sudah ada di luar diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan tadi. Fakta-fakta sosial tadi berdiri sendiri dan lepas dari fakta-fakta individu. Fakta-fakta sosial itu malahan mempunyai kekuatan memaksa para individu untuk berpikir menurut garis-garis dan bertindak menurut cara-cara tertentu. Poin penting yang didapat dari konsep fakta sosial ini adalah bahwa ada sesuatu yang ada di luar diri individu yang mempunyai kekuatan memaksa untuk mengikuti yang diinginkan sesuatu yang ada di luar individu tadi.
Untuk membahas masalah parcel ini, saya juga mencoba mengkaitkannya dengan apa yang dikatakan Marcell Mauss dalam bukunya yang berjudul Pemberian. Di buku Pemberian Mauss benar-benar menekankan bahwa sebenarnya jika seseorang memberikan hadiah kepada orang lain sebenarnya ada sesuatu yang diharapkan oleh si pemberi hadiah dari orang yang menerima pemberiannya. Satu yang saya coba pahami bahwa ternyata tidak selamanya pemberian itu bersifat baik, Mauss mengatakan jika kita mendapat pemberian dari seseorang, itu sebenarnya ada sesuatu yang mengikat dan memaksa kita untuk mengembalikan pemberian tersebut. Bisa dalam bentuk barang ataupun lainnya.