Terdiri dari kata budaya dan kata politik. Budaya: keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Jika dijabarkan dari defenisinya maka akan didapat tiga wujud kebudayaan yaitu:
Ø Sistem ide, gagasan (nilai)
Ø Sistem sosial (tingkah laku atau tindakan)
Ø Sistem artefak (materi)
Sedangkan kata politik sendiri jika diartikan secara sederhana: cara untuk meraih kekuasaan.
Salah satu aspek penting dalam sistem politik adalah budaya politik (political culture) yang mencerminkan faktor subyektif. Bentuk dari budaya politik dalam suatu masyarakat dipengaruhi antara lain oleh sejarah perkembangan dari sistem agama, kesukuan, status sosial, konsep mengenai kekuasaan kepemimpinan dan sebagainya.
Budaya politik mengutamakan dimensi psikologis dari suatu sistem politik, yaitu sikap-sikap, sistem-sistem kepercayaan, simbol-simbol yang dimiliki oleh individu-individu dan beroperasi di dalam seluruh masyarakat, serta harapan-harapannya. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya dalam perilaku politik ternyata budaya politik ini sangat mempengaruhi proses atau cara berpolitik seseorang. Kegiatan politik seseorang tidak hanya ditentukan oleh tujuan-tujuan yang didambakannya, akan tetapi juga oleh harapan-harapan politik yang dimilikinya dan oleh pandangannya mengenai situasi politik.
Beberapa Defenisi Budaya Politik
Ø Gabriel Almond
Budaya Politik adalah keseluruhan pandangan-pandangan politik seperti norma-norma, pola-pola orientasi terhadap politik dan pandangan hidup pada umumnya.
1. Orientasi Individu itu memiliki sejumlah komponen yaitu:
2. Orientasi Kognitif, yaitu pengetahuan, keyakinan
3. Orientasi Afektif, yaitu perasaan terkait, keterlibatan, penolakan dan sejenisnya tentang obyek politik.
4. Orientasi Evaluasi, yaitu penilaian dan opini tentang obyek politik yang biasanya melibatkan nilai-nilai standar terhadap obyek politik dan kejadian-kejadian.
Ø Walter A. Rosenbaum
Budaya politik dapat didefenisikan:
1. jika terkonsentrasi pada individu, budaya politik merupakan fokus psikologis, artinya bagaimana cara-cara seseorang melihat sistem politik. Apa yang ia rasakan dan ia pikirkan tentang simbol, lembaga, dan aturan yang ada dalam tatanan politik dan bagaimana pula ia meresponnya.
2. Budaya politik merujuk pada orientasi kolektif rakyat terhadap elemen-elemen dasar dalam sistem politiknya. Inilah yang disebut ‘pendekatan sistem’
Ø Albert Widjaja
Budaya politik adalah aspek politik dari sistem nilai-nilai yang terdiri dari ide, pengetahuan, adat istiadat, tahayul dan mitos.
Kantaprawira
Budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota atau masyarakat dalam sistem politik.
Ø Mochtar Masoed
Budaya politik adalah sikap dan orientasi warga suatu negara terhadap kehidupan pemerintahan negara dan politiknya.
Dari beberapa defenisi tentang budaya politik di atas dapat diambil beberapa poin-poin penting yaitu:
- Nilai, ide, norma
- Sikap-sikap atau tingkah laku
- Sistem kepercayaan
- Simbol
- Orientasi
Artinya di sini, bahwa setiap kelompok masyarakat atau setiap suku bangsa memiliki konsep-konsep yang berbeda tentang kekuasaan. Bagaimana cara untuk meraih kekuasaan itu ternyata berbeda tiap-tiap suku bangsa. Nilai gagasan, sikap-sikap, sistem kepercayaan, simbol kedaerahan, orientasi dari masing-masing suku bangsa inilah yang menentukan cara mereka berpolitik atau perilaku politik mereka. Intinya satu yaitu meraih kekuasaan. Konsep-konsep yang berbeda dari setiap suku bangsa tentang kekuasaan jelas akan mempengaruhi kehidupan dan cara berpolitik mereka. Jadi, ternyata dalam penerapannya budaya politik ini akan tampak dengan jelas pada saat terjadi ajang-ajang perebutan kekuasaan seperti pemilu. Maka apa yang dilakukan seseorang dalam berpolitik akan sangat dipengaruhi oleh nilai, tingkah laku, sistem kepercayaan, simbol, dan orientasi yang dimiliki seseorang itu.
Lebih terang lagi mungkin jika kita mendengarkan kalimat “identitas etnik”. Dari yang mungkin telah kita amati, sangat sering sekali masyarakat kita memilih calon pemimpin itu dengan emosi, tidak memikirkan apa yang bisa dilakukan dan apa yang akan terjadi ke depannya jika calon yang mereka pilih itu terpilih. Di sinilah sangat terlihat jelas bagaimana identitas etnik itu bermain. Calon-calon legislatif, atau calon-calon gubernur, bupati atau bahkan calon presiden sekalipun pasti menggunakan identitas etniknya untuk memuluskan langkahnya untuk menang dan meraih kekuasaan yang diinginkannya. Apabila kita berjalan di sepanjang Kota Medan ini, pastilah kita jumpai spanduk-spanduk caleg yang bertuliskan mengajak kita untuk memilih karena etnisnya, karena agamanya, dan sebagainya. Dan ada yang lebih menarik, bagaimana para calon-calon yang akan dipilih itu mencantumkan identitas etnik istri atau suaminya. Pastinya ada suatu maksud tentunya atas ini semua. Sangat terlihat bahwa untuk meraih kekuasaan segala cara dan upaya pasti dilakukan dengan konsep-konsep budaya politiknya masing-masing.
Ada satu yang akan saya fokuskan lagi dari kelima poin tadi tentang budaya politik yaitu sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan mempengaruhi budaya politik seseorang. Dia Islam, dia Kristen jelas akan mempengaruhi budaya politiknya. Karena dari dasar-dasarnya pasti ada yang diajarkan Islam atau Kristen dengan etika protestannya yang akan mempengaruhi pola pikir budaya politiknya. Dan untuk yang satu ini jelas bisa kita lihat juga bagaimana ternyata dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang lalu, dari hasil kesimpulan yang diterangkan Bapak Irfan Simatupang di kelas Antropologi Politik 22 Januari 2009 yang lalu, bahwa masyarakat memilih cenderung dengan emosi, yang mengakibatkan Islam sebagian besar suaranya tidak lari dari calon yang beragama Islam, dan Kristen juga demikian.
Jika kita telusuri lagi tentang budaya politik, ternyata ada kesamaan budaya politik orang Batak Toba dengan apa yang dulu pernah diterapkan bangsa Eropa pada masa mereka melakukan eksvansi-eksvansi ke daratan jajahan mereka. Kalau di Batak Toba ada Hamoraon, Hagebeon, dan Hasangopan, di Eropa ada semboyan Gold (emas atau kekayaan), Glory (kemuliaan), Gospel (kitab injil). Dari ketiga semboyan itu ternyata untuk meraih kekuasaan, pertama-tama yang harus dilakukan adalah gold (mengumpulkan harta, emas, atau kekayaan sebanyak-banyaknya), ketika sudah kaya kamu akan mendapatkan glory (kemuliaan), dan selalulah meminta petunjuk pada gospel (injil) pasti kekuasaan akan berada ditangan kamu. Seperti inilah budaya politik yang diterapkan bangsa-bangsa Eropa untuk menaklukkan setiap daerah jajahannya. Sangat mirip dengan landasan yang dipunyai orang Batak dalam budaya politiknya.
Tanggapan saya tentang aplikasi budaya politik pada masa sekarang ini, jelas bahwa identitas etnik sangat tajam sekali pengaruhnya dalam proses-proses politik di negara ini, bagaimana di setiap pemilihan apa saja pun itu yang memperebutkan kekuasaan pasti identitas etnik tidak dapat dipisahkan dari perilaku politik yang ada di masa sekarang ini. Sekali lagi kita akan melihat di pemilu yang sebentar lagi akan tiba budaya politik manakah yang akan menang dalam pemilu tersebut. Dan yang paling menonjol lagi kita dapat melihat bagaimana ternyata Partai Politik tidak menjalankan fungsi yang semestinya. Yang seharusnya menjalankan janji-janjinya dengan sepenuh hati. tetapi yang terlihat sekarang ini adalah bahwa itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana cara agar mereka dapat memenangi pertarungan. Dan segala cara walaupun itu tidak baik akan mereka lakukan. Dan di sini sekali lagi mereka mencantumkan asal-usul, etnis dan kekerabatannya sebagai embel-embel yang melengkapi nama mereka sebagai caleg.
Aplikasinya untuk yang akan datang saya kira masih akan sama seperti sekarang karena jelas akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari konsep-konsep budaya politik yang dimiliki seseorang mungkin sejak ia lahir yang ia peroleh dari proses belajar kebudayaanya di lingkungan kebudayaan masyarakatnya. Dan tentunya sangat sulit lepas dari kecurangan-kecurangan yang sepertinya telah mendarah daging di negara ini. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme adalah contoh-contoh nyata kebobrokan negara ini dalam membangun diri.